Sutradara film Vina: Sebelum 7 Hari Anggy Umbara mengungkapkan, Egi adalah kepala geng motor di Cirebon.
Dia menyatakan hal tersebut berdasarkan riset ke keluarga korban.
Film itu mengangkat kisah arwah Vina yang merasuki tubuh Linda dan membongkar kasus pembunuhan tersebut.
Awalnya, kematian Vina Cirebon dan pacarnya, Eki dikira akibat kecelakaan lalu lintas.
Ketika Linda kerasukan itulah, nama Egi disebut-sebut sebagai otak pembunuhan.
"Dari rekaman itu terungkap nama Egi yang belum ketangkap," kata Anggy Umbara di YouTube RJL 5 - Fajar Aditya.
Menurut arwah Vina yang masuk ke tubuh Linda, kata Anggy, disebutkan sosok Egi adalah anak polisi.
Berkali-kali Linda yang kerasukan arwah Vina menyebut Egi anak polisi, sebagai pelaku utama pembunuhan.
Sebagai informasi, film garapan Anggy itu berdasarkan kisah nyata tahu 2016.
Tragedi itu terjadi pada Sabtu 27 Agustus 2016.
Eksekusi kedua korban dilakukan di Jalan Saladara, Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.
Kemudian tubuh Eki dan Vina Cirebon, dibawa pelaku ke Fly Over Talun.
Itu adalah perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon di jalan Talun Desa Kepongpongan, Kabupaten Cirebon.
Bukan geng motor
Delapan pelaku kasus pembunuhan Vina Cirebon dan Eki bukan anggota geng motor.
Hal itu dipastikan oleh pihak kelompok motor di Cirebon, yakni XTC, Moonraker, Konack, dan GBR.
Para pengurus geng motor ini memastikan para terpidana bukan anggota mereka.
Ketua XTC Kota Cirebon Alfian menyatakan hal tersebut, Kamis (30/5/2024).
Dia mewakili empat kelompok motor di Cirebon, memastikan tidak mengenal delapan terpidana yang telah diadili.
Diketahui, 7 orang dihukum penjara seumur hidup, sedangkan 1 orang dihukum penjara 8 tahun dan telah bebas.
“Kalau para pelaku (8 terpidana kasus Vina), kami nggak ada yang kenal.
Artinya mereka juga bukan anggota komunitas motor di antara kami,” ucap Alfian di Gedung Kesenian Kota Cirebon, Kamis (30/5/2024) dikutip dari kompas.tv.
Pihaknya juga tidak mengenal tersangka kasus pembunuhan Vina dan Eki, Pegi Setiawan alias Pegi Perong yang baru ditangkap.
“Kalau Pegi juga sampai saat ini kami rasa bukan dari anggota kami.
Karena saya sendiri sudah menanyakan ke kelompok bermotor lainnya, Pegi bukan anggota kami,” kata Alfian.
“Artinya, bukan anggota. Dari Moonraker bukan, dari Konack bukan, dari XTC kota/kabupaten bukan, dan dari GBR juga bukan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Alfian membenarkan Eki, korban pembunuhan, merupakan anggota XTC wilayah Kabupaten Cirebon.
“Kalau Vina saya kurang tahu, mungkin bisa disebut pacarnya Eki, tapi kalau untuk lebih jauhnya simpatisan lah,” kata Alfian, seperti dikutip dari Tribun Jogja.
Namun demikian, ia menegaskan tidak ada konflik yang berkaitan dengan kelompok motor dengan insiden pembunuhan Eki.
Alfian bilang, saat itu pihaknya langsung menyerahkan kasus ini kepada pihak berwajib.
"Intinya yang kami tahu tidak ada konflik yang melatarbelakangi Eki menjadi korban pembunuhan.
Karena pada saat itu pun XTC mengetahui kejadian tersebut, kami langsung mempercayakan ke pihak berwajib," katanya.
Aep merupakan salah satu saksi yang melihat peristiwa detik-detik Vina dan Eky dibantai geng motor.
Namun kesaksian tersebut, kini diragukan oleh warga dekat TKP peristiwa pembunuhan dan pemerkosaan Vina.
Menurut warga bernama Samsuri itu, 7 terpidana itu memang sering nongkrong di dekat TKP.
Ia mengaku sering melihat para terpidana kasus pembunuhan Eki dan Vina nongkrong di dekat TKP.
Lokasi mereka nongkrong itu memang tidak jauh dari cucian mobil tempat Aep bekerja.
Namun ia mengatakan kalau di depan tempat Aep bekerja itu tidak ada warung.
"Warung ada di perapatan MAN, (warung) Madura itu, kalau di perempatan paling Pak Rewe jam 19.00 20.00 WIB malam sudah tutup," kata Samsuri dukutip dari Kompas TV, Kamis (30/5/2024).
Menurut dia, di depan bengkel pencucian Aep itu tidak ada warung sama sekali.
"Bukannya gak buka sampai malem, tapi gak ada (warung)," ungkapnya.
Samsuri pun mengaku kenal dengan beberapa terpidana, yakni Hadi, Eko, Saka dan Dirman.
Menurutnya, keempat terpidana yang ia kenal itu bukan geng motor.
"Itu kuli bangunan, kalau ada yang ngajak kerja," jelas dia.
Dirinya pun membenarkan kalau mereka berempat itu memang sering nongkrong di dekat TKP.
"Kalau sering nongkrong iya, kumpul di sini gitaran, godain cewek, euy kiw kiw, biasa lah anak muda," tuturnya.
Pernah digerebek
Samsuri mengatakan, beberapa hari sebelum kejadian, Eko dan Hadi mengajaknya untuk menggerebek tempat cucian motor.
Saat itu Eko dan Hadi mengatakan kalau di dalam tempat cucian mobil itu ada wanita.
Diduga mereka sering membawa wanita menginap hingga akhirnya dicurigai oleh warga sekitar.
Akhirnya Eko dan Hadi ditemani Samsuri dan beberapa orang serta ketua RT, melakukan penggerebekan.
"Yang ikut gerebek, Eko, saya, adik ipar saya 2, Hadi, sama Pak RT, 6 orang dulu," kata dia.
Awalnya menurut Samsuri, orang di dalam tempat cucian itu tak mengakui adanya wanita.
Namun saat digeledah ternyata ada dua wanita sembunyi di dalam kamar mandi.
"Barulah emosi ada yang lempar kursi, akhirnya panggil Pak RW," kata dia. (*)

Posting Komentar
Posting Komentar