Sosok AN, terduga pelaku bully terhadap Nabila Fitri Nuraini, siswi SMK di Kabupaten Bandung Barat akhirnya terungkap.
AN ternyata merupakan sahabat Nabila sendiri yang sehari-hari selalu bersama.
Nabila dan AN merupakan siswi SMK Kesehatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Pada foto yang beredar, AN terlihat berpose di samping Nabila.
Pada foto itu, AN tampak berwajah cantik dan bekulit putih.
AN juga tampak memakai hijab sama seperti korban.
Baca juga: Butuh tenaga kerja terbaik untuk bisnismu? Cari di sini!
Dikutip dari akun X @jissookkiim, AN sudah membully dan mengekang Nabila selama 3 tahun.
Pembullyan itu terjadi sejak mereka duduk di bangku kelas 1 hingga 3 SMK.
Sudah bersahabat selama 3 tahun, AN nyatanya tak pernah muncul untuk meminta maaf.
Bahkan AN tidak datang ke pemakaman Nabila yang selama ini ia bully.
Padahal selama ini Nabila dan AN bersahabat sangat dekat.
"Orang ini namanya Annisa Nurhaliza dia udah ngebully dan ngekang Alm Nabila selama 3 tahun.
Semenjak Alm meninggal gak ada pergerakan apapun dari orang ini even ke makamnya aja engga, u bayangi org meninggal garagara depresi krn u bully selama 3 tahun dan y gak koar koar?
You such a killer nis, i hope you never have good life after this," tulisan di foto Nabila dan AN.
Disuruh gendong pelaku
Berdasarkan pengakuan teman-teman korban dan pelaku, pembullyan itu dilakukan secara verbal dan non verbal.
Mulai dari dikatai soal fisik, ditempeleng, disuruh mengerjakan tugas, hingga dikekang tidak boleh dekat dengan teman yang lain.
Menurut teman dekatnya, Nabila dan AN ini saat awal kelas 10 atau kelas 1 SMK masih baik-baik saja.
"Tapi makin ke sini AN ngebuat N ga nyaman, dia suka nyuruh-nyuruh bahkan waktu kls 10 sering disuruh ngegendong AN bukan sekali dua kali tapi sering," tulis sahabat Nabila.
AN juga menurut temannya sering menghina fisik Nabila.
Pada satu waktu, teman-temannya sedang makan bersama saat jam istirahat kemudian mengobrol tentang anak mereka nanti.
"Nah N (Nabila) ini bilang 'aku ma kalo punya anak pengen mirip bapaknya biar ganteng', eh si AN ini nyeletuh 'iya semoga we mirip (crush N) da kalo mirip kamu mah bakal pesek idungnya'," ungkap sahabat mereka.
Bahkan saat mereka sedang kegiatan PKL bersama, Nabila juga sering disuruh untuk menjemput AN jika sedang shift berbeda.
"Tapi kalo pas bagian N shift sore (pulang jam 9an) AN diajak buat ngejemput N bareng2 jawabannya 'ngga bisa'," katanya lagi.
Nabila Fitri Nuraini dan AN merupakan siswi SMK Kesehatan Rajawali di Kecamatan Parongpong, Bandung Barat.
Tak mau diperpanjang
Nabila sendiri merupakan warga Kampung Centang, Desa Cihanjuang, Kecamatang Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Ibu kandung Nabila, Siti Aminah (42) mengaku sering mendengar anaknya jadi objek bully teman kelasnya.
"Anak saya Nabila sudah mengalami berbagai bentuk bullying. Memang bukan fisik tapi lebih ke psikis. Dihina, dicaci, dan sisuruh-suruh," kata Siti dikutip dari Kompas.com, Rabu (12/6/2024).
Perundungan yang dialami anaknya itu mulai terdengar sejak Nabila duduk di bangku kelas 2 SMK.
Baca juga: Kisah Pilu Nabila 3 Tahun Dibully Dicaci Sampai Dihina di Sekolah, Berakhir Depresi Lalu Meninggal
Siti Aminah mengaku mendapat laporan itu dari teman Nabila.
Namun Nabila tak menceritakan hal itu bahkan melarang ibunya meributkan aksi bully itu dengan alasan tak ingin punya musuh di sekolah.
Rupanya aksi perundungan terhadap Nabila itu semakin menjadi-jadi.
"Saat PKL bersama kelompoknya, Nabila dipaksa oleh pelaku untuk memasak nasi. Padahal posisinya sedang tidur pulas. Namun lagi-lagi anak saya enggak mau dibesar-besarkan karena ingin sekolah tetap lancar enggak ada musuh," kata Siti.
Korban mulai depresi
Namun pada 8 Mei 2024, Nabila tiba-tiba memeluk ibunya sambil menangis.
Nabila mengaku kelalahan sekaligus bersyukur sebentar lagi akan menghadapi kelulusan.
Tapi setelah itu kesehatan Nabila justru mulai menurun dan emosinya tak stabil.
Nabila terlihat murung menyendiri dan marah-marah tanpa sebab yang jelas hingga berontak.
Saat dibawa ke rumah sakit, dokter memvonis Nabila mengalami gangguan kejiwaan dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa.
"Berbagai pengobatan sudah dilakukan tapi tidak mengalami perbaikan. Hingga akhirnya pada Kamis 30 Mei 2024, anak saya meninggal dunia," jelasnya.
Kata pihak sekolah
Sementara itu, Kepala SMK Kesehatan Rajawali, Rizki Zaskia Hilmi mengatakan, pihaknya sudah melakukan investigasi.
"Selama kurang dari tiga tahun masa belajar kami sekolah tidak menerima laporan dari siswa A dan N, kedua orang tua siswa, juga teman-teman siswa terkait bullyin," tandasnya. (*)

Posting Komentar
Posting Komentar